Prof. Dr.KH.Kana Sutina M.A


Esensi Nikmat Iman, Islam, dan Teladan Rasulullah

Ceramah diawali dengan rasa syukur atas nikmat iman dan Islam, yang dinilai sebagai kenikmatan tertinggi bagi manusia. Tanpa kedua nikmat ini, segala aktivitas duniawi akan menjadi semu. Rasulullah Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) karena keagungan akhlaknya. Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan untuk menjadikan Nabi sebagai satu-satunya role model (uswatun hasanah) dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari hal terkecil hingga urusan yang paling besar.

Penulis mengajak jamaah untuk senantiasa berselawat kepada Rasulullah SAW. Berselawat bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan sebuah dorongan spiritual yang akan menggerakkan hati dan pikiran untuk lebih mengenal sosok Nabi, yang pada akhirnya akan menuntun umat menuju keselamatan dunia dan akhirat.


Panggilan Haji: Niat, Tekad, dan Ketentuan Waktu

Sebelum memasuki materi inti, penceramah mendoakan para jamaah yang sedang berada di tanah suci agar diberikan kesehatan, ketenangan, serta kelancaran dalam ibadah haji sehingga meraih predikat mabrur. Bagi yang belum berangkat, beliau menekankan pentingnya menanamkan niat dan tekad yang kuat terlebih dahulu. Melalui sebuah kisah nyata tentang seorang tukang angon sapi yang bisa pergi umrah secara gratis karena sebuah ketidaksengajaan, beliau menegaskan bahwa urusan keberangkatan ke tanah suci mutlak merupakan hak prerogatif Allah yang memampukan hamba-Nya (man istatha’a ilaihi sabila), bukan semata-mata karena faktor kekayaan materi.

Secara kontekstual, ibadah haji dan kurban dilaksanakan pada bulan Zulhijah. Berdasarkan Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36, Allah SWT menetapkan 12 bulan dalam setahun, di mana terdapat empat bulan haram (yang dimuliakan), yaitu:

  • Muharam
  • Rajab
  • Zulkaidah
  • Zulhijah

Pada bulan-bulan mulia ini, umat Islam dilarang keras untuk melakukan kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Sebaliknya, momen ini harus dijadikan sarana untuk mempererat ukhuwah (persaudaraan Islam).


Haji sebagai Simbol Persamaan Universal

Ibadah haji merupakan simbol persamaan dan persaudaraan universal yang sangat nyata. Saat memasuki batas miqat, seluruh jamaah laki-laki diwajibkan menanggalkan pakaian duniawi mereka dan mengenakan dua helai kain ihram putih yang tidak berjahit. Dalam kondisi ini, semua atribut dunia—seperti pangkat, jabatan, kekayaan, etnis, warna kulit, maupun ego—harus dilepaskan.

Di hadapan Allah, seluruh manusia adalah sama; yang membedakan mereka hanyalah kadar ketakwaannya (QS. Al-Hujurat: 13). Selain melambangkan persamaan derajat, kain ihram juga menjadi pengingat akan kematian, di mana setiap manusia kelak akan dibungkus oleh kain kafan yang serupa. Selama berihram, jamaah dilarang keras melakukan rafas (berkata jorok/porno), fusuq (berbuat maksiat), dan jidal (berbantah-bantahan). Esensi pengendalian lisan dan emosi inilah yang seharusnya dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat guna menjaga keharmonisan hubungan persaudaraan.


Wukuf di Arafah dan Pelajaran dari Keluarga Ibrahim

Puncak dari ibadah haji adalah wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Wukuf, yang berarti berdiam diri, dimaknai secara spiritual sebagai stopping—yakni berhenti berpikir secara logis-duniawi dan mulai menggerakkan hati untuk fokus berzikir mengingat Allah (zikrullah).

Sejarah Zulhijah, haji, dan kurban tidak dapat dipisahkan dari napak tilas keluarga Nabi Ibrahim AS. Peristiwa sai antara bukit Safa dan Marwah yang dilakukan oleh Siti Hajar mengajarkan pentingnya ikhtiar yang maksimal dalam menghadapi ujian hidup. Siti Hajar berjuang mencari air (materi) demi menyelamatkan bayinya, Ismail. Namun, setelah usahanya mentok dan ia berserah diri sepenuhnya (tawakal), Allah justru memancarkan air zamzam dari tempat yang tak terduga, yaitu di bawah kaki Ismail.

Ujian puncaknya terjadi ketika Nabi Ibrahim AS mendapatkan wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putra yang sangat dirindukannya, Ismail. Melalui komunikasi yang bijaksana (wisdom) antara ayah dan anak, keduanya memilih tunduk pada perintah Allah. Kepatuhan mutlak inilah yang kemudian mendasari syariat ibadah kurban.


Kurban dan Nilai Kemanusiaan di Atas Ritual

Di akhir ceramah, Prof. Kana Sutisna menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan ukhuwah dalam Islam harus ditempatkan di atas ritual yang bersifat individu. Ibadah kurban mengajarkan kepedulian sosial melalui pembagian daging kurban kepada kaum fakir miskin dan tetangga yang membutuhkan, bukan untuk ditimbun atau dihabiskan sendiri. Islam melarang umatnya bersikap cuek terhadap lingkungan sekitar. Menjaga hubungan baik dan memuliakan tetangga merupakan cerminan langsung dari kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir. Dengan menghidupkan semangat berbagi melalui kurban, jurang pemisah sosial dapat dikikis, dan ikatan ukhuwah Islamiah antarsesama umat akan semakin kuat serta kokoh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *